Liputan6.com, Jakarta - Virus Nipah merupakan salah satu patogen berbahaya yang menjadi perhatian serius bagi kesehatan global. Sebagai agen infeksius zoonosis, virus Nipah memiliki kemampuan untuk menular dari hewan ke manusia dan selanjutnya menyebar antarindividu dengan tingkat kematian yang sangat tinggi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengidentifikasi virus Nipah sebagai penyakit prioritas untuk penelitian dan pengembangan, mengingat potensi pandeminya di masa depan.
Sejak pertama kali diidentifikasi pada tahun 1999 di Malaysia, virus Nipah telah menyebabkan beberapa wabah mematikan di Asia Tenggara dan Asia Selatan. Tingkat fatalitas kasusnya diperkirakan antara 40% hingga 75%, menjadikannya salah satu ancaman kesehatan masyarakat yang paling serius. Meskipun wabah yang terjadi masih terbatas secara geografis, kemampuan virus ini untuk beradaptasi dan bermutasi meningkatkan potensi ancaman globalnya.
Pemahaman mendalam mengenai karakteristik, cara penularan, gejala, dan upaya pencegahan virus Nipah sangat krusial bagi masyarakat dunia. Dengan belum adanya vaksin atau pengobatan spesifik yang tersedia saat ini, langkah-langkah preventif dan deteksi dini menjadi kunci utama dalam mengendalikan penyebaran infeksi mematikan ini.
Berikut ini telah Liputan6 ulas informasi lengkapnya, pada Selasa (27/1).
Mengenal Virus Nipah dan Sejarah Kemunculannya
Karakteristik Dasar Virus Nipah
Virus Nipah (NiV) adalah virus RNA berselubung yang termasuk dalam genus Henipavirus, bagian dari keluarga Paramyxoviridae. Virus ini memiliki kemampuan untuk menginfeksi berbagai jenis sel pada manusia dan hewan, termasuk sel-sel sistem saraf, pernapasan, dan kardiovaskular.
Kelelawar buah dari famili Pteropodidae, khususnya genus Pteropus, adalah inang alami virus Nipah. Kelelawar ini dapat membawa virus tanpa menunjukkan gejala penyakit, sehingga menjadi sumber infeksi yang tidak terdeteksi. Distribusi geografis kelelawar ini mencakup wilayah luas di Asia, Australia, dan beberapa bagian Afrika, menunjukkan potensi penyebaran virus yang luas.
Sejarah Wabah dan Perkembangan Virus
Virus Nipah pertama kali dikenali pada tahun 1999 selama wabah di antara peternak babi di Malaysia dan Singapura. Wabah ini menyebabkan 265 kasus ensefalitis akut pada manusia di Malaysia, dengan 105 kematian. Di Singapura, 11 kasus dilaporkan dengan satu kematian.
Lebih dari satu juta babi dimusnahkan di Malaysia antara September 1998 hingga Mei 1999 untuk mengendalikan wabah, menyebabkan dampak ekonomi yang signifikan. Setelah wabah di Malaysia, virus Nipah mulai muncul secara berkala di Bangladesh sejak tahun 2001, dengan wabah yang terjadi hampir setiap tahun.
Pola penularan di Bangladesh berbeda, di mana infeksi terutama terjadi melalui konsumsi nira kelapa yang terkontaminasi oleh urin atau air liur kelelawar yang terinfeksi. Kasus juga dilaporkan secara sporadis di India bagian timur, termasuk Kerala sejak 2018, menunjukkan perluasan geografis virus.
Distribusi Global dan Potensi Ancaman
Bukti keberadaan virus Nipah atau antibodi spesifik telah ditemukan pada populasi kelelawar di berbagai negara, termasuk Kamboja, Ghana, Indonesia, Madagaskar, Filipina, dan Thailand. Hal ini menunjukkan bahwa potensi wabah tidak terbatas pada wilayah yang telah melaporkan kasus sebelumnya.
Perubahan iklim dan aktivitas manusia yang semakin intensif di habitat alami kelelawar meningkatkan risiko kontak antarspesies. Kewaspadaan global terhadap virus Nipah menjadi semakin krusial.
Mekanisme Penularan dan Faktor Risiko
Jalur Penularan Primer dari Hewan ke Manusia
Penularan virus Nipah dari hewan ke manusia dapat terjadi melalui beberapa mekanisme. Kontak langsung dengan babi yang sakit atau sekresi mereka merupakan jalur penularan utama yang teridentifikasi pada wabah di Malaysia.
Di Bangladesh dan India, konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi virus Nipah menjadi jalur penularan dominan. Nira kelapa segar yang dikumpulkan dari pohon yang sering dikunjungi kelelawar terinfeksi dapat menjadi media penularan yang efektif.
Buah-buahan yang telah digigit atau terkontaminasi air liur kelelawar juga berpotensi menjadi sumber infeksi bagi manusia. Praktik ini meningkatkan risiko paparan virus Nipah.
Transmisi Antar Manusia dan Implikasinya
Penularan dari manusia ke manusia telah didokumentasikan, terutama di antara anggota keluarga dan tenaga kesehatan yang merawat pasien terinfeksi. Kontak erat dengan cairan tubuh pasien yang terinfeksi, seperti sekresi pernapasan, urin, atau ekskresi, dapat menyebabkan transmisi virus.
Wabah di rumah sakit Siliguri, India pada tahun 2001, menunjukkan efektivitas penularan nosokomial. Masa inkubasi virus Nipah diperkirakan berkisar antara 4 hingga 14 hari, namun dapat mencapai 45 hari.
Periode inkubasi yang panjang ini memungkinkan individu yang terinfeksi untuk menyebarkan virus sebelum gejala muncul, menyulitkan deteksi dini dan isolasi pasien, sehingga meningkatkan potensi penyebaran virus Nipah.
Kelompok Berisiko Tinggi
- Pekerja Sektor Pertanian dan Peternakan: Termasuk peternak babi, pekerja rumah potong hewan, pekerja kebun yang memanjat pohon nira, serta dokter hewan dan petugas kesehatan hewan.
- Tenaga Kesehatan: Dokter, perawat, petugas laboratorium, dan petugas ambulans yang merawat pasien suspek atau terkonfirmasi tanpa alat pelindung diri (APD) yang memadai.
- Masyarakat di Daerah Endemis: Penduduk yang tinggal dekat habitat kelelawar, konsumen produk makanan mentah atau tidak diolah yang terkontaminasi, serta anggota keluarga pasien terinfeksi.
.png)
1 week ago
16
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5473767/original/057718200_1768456004-susu_formula.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1740001/original/057180700_1508071681-Sederet-Manfaat-Rebung-untuk-Kesehatan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5145121/original/055491600_1740664704-cup-with-natural-healthy-herbal-tea-made-from-turmeric-honey-spices.jpg)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5474416/original/065895400_1768476260-3_Petinggi.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3150608/original/034688400_1591913197-ps5-2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5256784/original/092761500_1750254607-photo_6237496642689418828_y.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5473427/original/064018200_1768443556-Potret_sisi_belakang_bodi_Redmi_Note_15_Pro_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5475181/original/039823200_1768554526-Biwin_1.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5285635/original/038391000_1752721652-Mobile_Record_Pre_Activity.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5475304/original/095087700_1768564600-Numofest.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4940649/original/030602500_1725909892-Apple-iPhone-16-finish-lineup-240909.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5466750/original/002768900_1767853711-OpenAI_Rilis_ChatGPT_Health_01.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5476422/original/056804200_1768748790-Alter_Ego_Menangkan_Derbi_Indonesia_di_M7_MLBB_Lawan_Onic_01.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5477012/original/054542900_1768806227-New_Project.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5474073/original/037917000_1768466045-Oppo_Reno_15_Series_01.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5475769/original/060517500_1768648394-5_Fitur_Spotify_yang_Jadi_Alasan_Banyak_Pengguna_Enggan_Pindah_ke_Aplikasi_Lain.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5473533/original/062462200_1768448014-Potret_sisi_belakang_bodi_Redmi_Note_15_Pro___3_.jpeg)
