Siapa Pemilik Greenland Sebenarnya dan Mengapa Trump Ingin Ambil Alih?

4 weeks ago 8
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online

Jakarta, CNBC Indonesia - Wacana Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk "mengambil alih" Greenland kembali memicu ketegangan geopolitik global. Klaim Trump bahwa AS "membutuhkan Greenland untuk keamanan nasional" ditolak tegas oleh Denmark, sekutu NATO, serta pemerintah dan rakyat Greenland sendiri.

Lantas, siapa sebenarnya pemilik Greenland, dan mengapa pulau es raksasa itu begitu diincar Washington?

Greenland adalah pulau terbesar di dunia yang bukan benua, terletak di kawasan Arktik dan secara geografis masuk Amerika Utara. Meski demikian, wilayah ini telah berada di bawah kendali Denmark selama hampir 300 tahun.

Saat ini status pulau itu adalah wilayah semi-otonom dalam Kerajaan Denmark, dengan pemerintahan sendiri untuk urusan domestik. Sementara kebijakan luar negeri dan pertahanan tetap dipegang Kopenhagen.

"Greenland adalah milik rakyatnya, dan hanya Denmark serta Greenland yang dapat memutuskan masa depan hubungan mereka," demikian pernyataan bersama para pemimpin Eropa, termasuk Inggris, Prancis, Jerman, dan Denmark, dikutip Rabu (7/1/2026).

Minat AS Terhadap Greenland

Minat AS terhadap Greenland bukan hal baru. Sejak Perang Dunia II, Washington menilai posisi pulau ini krusial bagi pertahanan Amerika Utara.

AS mengoperasikan Pangkalan Luar Angkasa Pituffik (dulu Pangkalan Udara Thule) di Greenland barat laut sejak perjanjian pertahanan 1951 dengan Denmark. Basis ini menjadi bagian penting sistem peringatan dini rudal, pertahanan misil, serta pengawasan ruang angkasa AS dan NATO.

Greenland juga berada di jalur strategis Celah GIUK (Greenland-Islandia-Inggris), titik vital NATO untuk memantau pergerakan angkatan laut Rusia di Atlantik Utara. Ketegangan meningkat seiring mencairnya es Arktik akibat perubahan iklim, yang membuka rute pelayaran baru dan akses ke sumber daya alam, mineral bernilai tinggi.

Namun Trump acapkali menegaskan alasannya bukan mineral. "Kita membutuhkan Greenland untuk keamanan nasional," katanya, seraya menuding kawasan itu "dipenuhi kapal-kapal Rusia dan China".

Meski demikian, para analis menilai faktor ekonomi memang tetap signifikan. Greenland menyimpan cadangan mineral langka, uranium, dan bijih besi, komponen penting industri teknologi dan transisi energi yang selama ini didominasi China dalam rantai pasok global.

Ilustrasi peta Greenland. (Photo by Odd ANDERSEN / AFP)Foto: Ilustrasi peta Greenland. (AFP/ODD ANDERSEN)
Ilustrasi peta Greenland. (Photo by Odd ANDERSEN / AFP)


Mendapat Penolakan Keras

Sementara itu, gagasan aneksasi AS menuai penolakan keras. Perdana Menteri Greenland Jens Frederik Nielsen menyebutnya sebagai "fantasi".

"Tidak ada lagi tekanan, tidak ada lagi sindiran aneksasi. Kami terbuka untuk dialog, tapi harus menghormati hukum internasional," ujarnya.

Sentimen publik di Greenland juga jelas. Mayoritas warga, yang berjumlah sekitar 56.000 jiwa dan sebagian besar suku Inuit, mendukung kemerdekaan dari Denmark dalam jangka panjang, tetapi menolak menjadi bagian dari AS.

"Ini ide yang sangat berbahaya. Kami diperlakukan seperti barang yang bisa dibeli," kata Aleqa Hammond, mantan perdana menteri Greenland.

Reaksi NATO

Bagi NATO, wacana Trump dinilai berisiko memecah aliansi. PM Denmark Mette Frederiksen bahkan memperingatkan bahwa upaya sepihak atas Greenland dapat "mengakhiri NATO".

Dengan posisi strategis, kepentingan militer, dan kekayaan sumber daya, Greenland memang menjadi rebutan pengaruh di Arktik. Namun secara hukum dan politik, pulau itu tetap berada di bawah kedaulatan Denmark dan hak menentukan nasib sendiri rakyat Greenland, bukan komoditas yang bisa diambil alih sepihak, bahkan oleh kekuatan sebesar Amerika Serikat.

(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article