Pemerintah Ungkap Tantangan Proyek Co-Firing PLTU Batu Bara di RI

3 weeks ago 7
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membeberkan tantangan yang dihadapi dalam pemanfaatan biomassa sebagai campuran (co-firing) dalam pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara. Pemerintah mengakui upaya penyediaan bahan baku energi hijau ini menghadapi kendala persaingan harga dengan pasar internasional serta ketergantungan pasokan pada sektor lain.

Staf Ahli Menteri ESDM Bidang Ekonomi Sumber Daya Alam Lana Saria mengatakan bahwa pengembangan bioenergi yang berkelanjutan belum bisa dijalankan di Indonesia. Menurutnya, program tersebut sangat bergantung pada kolaborasi lintas sektoral karena sumber bahan baku biomassa berada di wilayah kerja sektor pertanian, perkebunan, hingga kehutanan.

"Mengingat penyediaan bahan baku biomassa yang berbasis produksi berada dalam ranah sektor pertanian, perkebunan, dan kehutanan, sinergi kebijakan antar kementerian ini menjadi suatu hal yang krusial untuk menjamin ketersediaan pasokan yang stabil bagi sektor energi," ujar Lana dalam acara Ombudsman soal Hasil Kajian Cepat Implementasi Pembangkit Listrik Ramah Lingkungan, di Kantor Ombudsman, Jakarta, Kamis (15/1/2026).

Selain masalah pasokan, Lana mengatakan ada tantangan ekonomi kan akibat tingginya permintaan ekspor biomassa di pasar global. Harga yang ditawarkan pasar internasional dinilai jauh lebih kompetitif dan melampaui kemampuan serap pasar domestik, sehingga menyulitkan pemenuhan kebutuhan untuk program co-firing pembangkit listrik di dalam negeri.

"Hal ini disebabkan tentunya adanya batasan Biaya Pokok Penyediaan, atau BPP, tenaga listrik, yang membatasi harga beli biomassa di dalam negeri. Sehingga daya saing domestik menjadi terbatas," tambahnya.

Tantangan lainnya adalah dari struktur rantai pasok biomassa, khususnya yang berbasis limbah, yang saat ini masih tersebar dengan kapasitas produksi skala kecil hingga menengah. Kondisi lokasi yang tersebar tersebut dinilai berimplikasi pada tingginya biaya logistik, yang menjadi salah satu hambatan utama dalam mewujudkan harga biomassa yang kompetitif bagi PLN.

"Saat ini, industri biomassa nasional masih berada pada fase pertumbuhan, dan belum mencapai tahap yang matang tentunya. Itu harus kita akui, karena itu pemberlakuan kebijakan domestic market obligation untuk biomassa, berbeda dengan DMO batu bara, dinilai memang menurut kami belum mendesak untuk diterapkan," tandasnya.

Di sisi lain, Ketua Ombudsman Mokhammad Najih mengatakan hasil kajian pihaknya yang menunjukkan bahwa implementasi program co-firing di lapangan belum berjalan optimal dan merata. Ia mencatat realisasi pemanfaatan biomassa saat ini berada di bawah target yang ditetapkan dalam kebijakan nasional maupun Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).

"Beberapa persoalan utama yang menyebabkan hal ini terjadi antara lain, ketersediaan dan kontinuitas biomassa yang belum terjamin, kualitas biomassa yang belum seragam, keterbatasan teknologi dan tingginya biaya retrofit," ujarnya dalam kesempatan yang sama.

Dia memperingatkan bahwa berbagai persoalan tersebut, mulai dari aspek keekonomian yang belum efisien hingga tata kelola yang belum mumpuni, berpotensi memicu ketidakefektifan program.

Bahkan, pihaknya menilai jika tidak dikelola dan diawasi secara ketat, program pencampuran biomassa tersebut berisiko menimbulkan masalah administrasi di kemudian hari.

"Persoalan-persoalan ini kemudian berpotensi menimbulkan ketidakefektifan program dan bahkan memicu terjadinya maladministrasi jika tidak dikelola dan diawasi secara ketat," tutupnya.

(pgr/pgr)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article