Fenomena AI, ketika pemilik akal asli menggugat yang imitasi

3 weeks ago 7
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
Karena hanya manusia yang memiliki niat, hanya manusia yang bisa memilih untuk menyalahgunakan, dan hanya manusia yang dapat dimintai pertanggungjawaban moral

Jakarta (ANTARA) - Gelombang gugatan terhadap kecerdasan buatan di berbagai negara memperlihatkan satu pola yang berulang: ketika ruang digital melukai, teknologi kerap lebih dulu dituding. Padahal, di balik setiap keluaran akal imitasi atau AI, selalu ada kehendak manusia yang meminta, menggunakan, dan menguji batas.

Di tengah ketimpangan literasi dan risiko terhadap kelompok rentan, negara memilih hadir, bukan dengan menghakimi mesin, melainkan membangun pagar kebijakan agar AI tidak beroperasi di ruang tanpa kendali.

Dalam beberapa bulan terakhir, AI semakin sering muncul, bukan sebagai inovasi, melainkan sebagai terdakwa.

ChatGPT digugat karena dianggap memberi panduan bunuh diri. Grok, produk AI milik Elon Musk, menuai kecaman global karena memungkinkan pembuatan gambar berbau pornografi, termasuk konten non-konsensual yang melibatkan anak-anak dan figur publik.

Di berbagai negara, AI mendadak menjadi nama pertama yang disebut, ketika ruang digital berubah menjadi ruang luka.

Narasi yang beredar nyaris seragam. AI disebut “memberi”, “mengajarkan”, dan “menghasilkan”. Bahasa pemberitaan dan pernyataan hukum perlahan memosisikan mesin sebagai subjek aktif, seolah ia memiliki niat dan kehendak.

Dalam kerangka ini, AI tampil, bukan lagi sebagai alat, melainkan sebagai aktor yang patut dimintai pertanggungjawaban.

Padahal, ada satu fakta mendasar yang kerap terlewat dalam hiruk-pikuk itu. Tidak ada satu pun keluaran AI yang lahir tanpa permintaan. Tidak ada gambar, teks, atau respons yang muncul tanpa input manusia. AI tidak memulai percakapan, tidak mengajukan ide, tidak memiliki dorongan. Ia hanya merespons.

Kasus Grok memperlihatkan pola itu, dengan terang. Fitur pembuatan gambar dari AI itu, awalnya dibuka untuk publik, memungkinkan pengguna mengunggah foto siapapun dan meminta versi yang lebih vulgar.

Hal yang terjadi kemudian adalah banjir konten pornografi lewat AI, tanpa persetujuan, memicu kemarahan lintas negara. Setelah tekanan datang, barulah pembatasan diterapkan. Bahkan, kini, pagar itu tidak sepenuhnya seragam di semua kanal.

Fenomena serupa tampak dalam gugatan terhadap chatbot lain. AI dituduh berkontribusi pada perilaku berbahaya, sementara peran pengguna sering berhenti sebagai latar belakang cerita.

Sorotan publik bergerak cepat ke teknologi, dalam hal ini AI, meninggalkan pertanyaan tentang niat, konteks, dan tanggung jawab manusia yang memanfaatkan celah sistem.

AI seolah menjadi wajah paling mudah untuk disalahkan. Ia —tentu saja—tidak bisa membela diri, tidak berdebat, dan tidak menuntut balik.

Apakah duduknya AI di kursi terdakwa benar-benar menjawab persoalan? Atau justru menyingkirkan diskusi yang lebih sulit tentang bagaimana manusia menggunakan alat yang ada di tangannya?

Pertanyaan itu menjadi penting, sebelum kita melangkah lebih jauh dan menarik kesimpulan yang terlalu cepat mengenai AI.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article