Liputan6.com, Yogyakarta Anemia masih menjadi tantangan bagi Indonesia. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, masih sekitar 23,8 persen anak-anak kurang dari lima tahun di Indonesia yang mengalami anemia.
Seorang anak disebut mengalami anemia bila kadar hemoglobin (Hb) di bawah 11. Sayangnya, ciri-ciri seorang anak mengalami anemia di tahap awal itu tidak terlalu jelas seperti disampaikan dokter spesialis anak konsultan Devie Kristiani.
"Kalau kurang darahnya (anemia) masih yang rendah itu belum memperlihatkan gejala yang nyata," kata Devie dalam sesi talkshow 71 Tahun SGM Menutrisi Indonesia di Yogyakarta, pada Rabu, 27 Agustus 2025.
Meski begitu harus mulai waspada ketika anak menunjukkan gejala-gejala yang mengarah ke anemia diantaranya:
1. Lemah, Letih dan Lesu
"Kalau anak di sekolah sering tidur, lalu tiba-tiba respons lambat ketika diminta sesuatu, itu jangan-jangan karena kekurangan zat besi," kata Devie.
2. Perkembangan Lebih Lambat
Dibandingkan anak tidak anemia, perkembangan anak anemia lebih lambat. Hal ini salah satu faktornya karena ketika tubuh kekurangan zat besi maka akan memengaruhi otot.
"Harusnya sudah bisa jalan ini belum bisa, harusnya sudah tengkurap tapi ini belum bisa," tutur Devie.
Telapak Tangan Pucat, Gejala Anemia Sudah Tahap Lanjut
Salah satu gejala anemia yang bisa terlihat adalah telapak tangan lebih pucat dibandingkan anak yang tidak anemia.
Ciri ini memang bisa terlihat dengan mata orang awam. Sayangnya, jika ini sudah terjadi maka sudah tingkat anemia yang lanjut.
"Kalau sudah terlihat pucat di telapak tangan, itu kalau suah anemia atau kurang darah yang lanjut," tegas Devie.
Cegah Anemia
Lebih lanjut, Devie mengatakan bahwa penyebab anemia paling sering adalah kekurangan zat besi. Untuk mencegah hal itu terjadi maka bisa dilakukan berbagai upaya yang dimulai dari sejak kehamilan hingga makanan yang disantap sehari-hari yakni:
- Pada ibu hamil, pastikan ibu hamil memiliki kecukupan zat besi.
- ASI dan MPASI berkualitas. Penyerapan zat besi pada ASI itu sangat baik. Asal dengan catatan ibu tidak anemia. Lalu, pastikan pemberian MPASI mengandung makanan yang tinggi zat besi ya seperti pesan Devie. "Sumber zat besi bisa didapatkan dari hati ayam, lalu daging yang berwarna merah," tuturnya.
- Lalu, bila anak tidak mendapatkan ASI, maka bisa diberikan susu pertumbuhan yang difortifikasi atau ditambahkan zat besi. "Selanjutnya, vitamin C membuat penyerapan zat besi lebih baik dalam tubuh kita," lanjutnya.
- Suplementasi zat besi. "Dimulai usia 4 bulan untuk bayi tidak prematur dan usia dua minggu untuk prematur," katanya.- Kurangi Minum Teh dan CokelatTeh dan cokelat merupakan sumber minuman dan makanan yang mengandin tanin yang dapat menghalangi penyerapan zat besi.
Deteksi Lewat Kalkulator Zat Besi
Guna membantu orangtua dalam mendeteksi anak kekurangan zat besi atau tidak, dibuatlah Kalkulator Zat Besi SGM yang bisa diakses lewat website. Lewat kalkulator ini bisa mengetahui risiko anak kekurangan zat besi atau tidak.
Lewat Kalkulator Zat Besi SGM, orangtua menjawab tujuh pertanyaan mengenai kebiasan makan dan minum anak sehari-hari. Seperti kebiasaan minum susu dan makanan apa saja yang dikonsumsi. Cukup dengan menjawab tujuh pertanyaan bisa membantu orangtua mengenai risiko anak kekurangan zat besi atau tidak.
Bila hasil adalah berisiko kekurangan zat besi, disertai pula rekomendasi untuk membantu memenuhi kebutuhan zat besi anak.
"Inovasi kami tidak hanya berfokus pada produk, tapi juga dalam aspek edukasi berbasis digital berupa pemanfaatan Kalkulator Zat Besi, sebagai alat praktis orangtua memantau kebutuhan zat besi si Kecil. Semua upaya ini kami lakukan sebagai kontribusi nyata dalam mendukung terwujudnya Generasi Emas Indonesia 2045 yang sehat dan bebas anemia,” kata VP General Secretary Danone Indonesia, Vera Galuh Sugijanto di kesempatan yang sama.
Lalu, komitmen menghadirkan produk bergizi dan berkualitas didukung dengan hadirnya Research & Innovation Center yang menjadi bagian dari jaringan pusat riset Danone secara global.
Dengan fasilitas berteknologi tinggi mulai dari laboratorium sensori, pengemasan, hingga pilot plant, kami mampu mengembangkan inovasi nutrisi yang relevan dengan kebutuhan lokal sekaligus memenuhi standar internasional.
"Melalui sinergi antara riset global dan lokal, serta proses produksi yang dijalankan dengan kontrol kualitas ketat, kami pastikan setiap produk SGM yang sampai ke tangan orang tua aman, berkualitas, dan bermanfaat bagi tumbuh kembang anak Indonesia,” kata Corporate Communications Director Danone Indonesia, Arif Mujahidin di kesempatan yang sama.