Bos Toyota Kasih Wanti-Wanti dan Sebut Bom Waktu, Pertanda Apa?

4 weeks ago 9
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online

Jakarta, CNBC Indonesia - Tekanan ekonomi yang kian terasa membuat ruang gerak kebijakan pemerintah semakin terbatas. Di tengah pelemahan daya beli dan perlambatan pertumbuhan, tantangan terbesar bukan lagi sekadar menjaga konsumsi, melainkan bagaimana mengembangkan pasar agar ekonomi kembali bergerak dengan daya ungkit yang nyata.

Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam menilai pemerintah tak bisa lagi berharap pada insentif yang sifatnya sekali pakai. Menurutnya, insentif semacam itu justru berisiko memperberat ekonomi jika tidak menghasilkan efek lanjutan.

"Intinya, berharap disposal incentive itu nggak mungkin. Disposal incentive itu artinya ya dikasih incentive, dipakai, habis itu hilang. Yang kita butuhkan adalah incentive yang mempunyai daya ungkit ekonomi, sehingga berubah menjadi stimulus," ujarnya.

Bob menekankan, kebijakan fiskal seharusnya dirancang untuk menciptakan efek berantai, bukan sekadar mendorong konsumsi sesaat. Tanpa multiplier effect, insentif justru bisa menjadi beban baru bagi negara.

"Kalau incentive aja misalnya untuk consumption dipakai, selesai, ya pasti ekonominya tambah berat. Yang dibutuhkan adalah incentive yang sifatnya menjadi stimulan," jelasnya.

Ia menyebut industri otomotif sebagai salah satu sektor yang memiliki elastisitas tinggi terhadap kebijakan insentif. Dengan perhitungan yang tepat, insentif di sektor ini bisa menghasilkan dampak ekonomi yang jauh lebih besar dibandingkan nilai fiskal yang dikeluarkan. Kebijakan kontra-siklus menjadi krusial ketika ekonomi sedang melemah. Ia memperingatkan bahaya jika pemerintah justru menaikkan pajak di saat ekonomi terus menurun demi menutup pengeluaran negara.

"Jadi jangan sampai ekonomi lagi drop, drop, drop, drop, malah pemerintah menaikkan pajak demi untuk menutupi pengeluaran. Itu bom waktu itu pasti," tegasnya.

Salah satu kebijakan yang menurutnya kerap dihindari adalah pemberian insentif kepada kelas menengah. Secara politik, langkah ini dinilai kurang menarik dibandingkan bantuan sosial untuk kelompok bawah, meski dampak ekonominya justru lebih besar.

"Sebagai contoh, misalnya memberikan insentif untuk kelas menengah kan nggak populer. Yang paling populer kan memberi insentif untuk kelas bawah seperti bansosĀ (bantuan sosial) dan lain sebagainya. Tapi itu disposal consumption yang sekali pakai, selesai," kata Bob.

Ia menegaskan, konsumsi kelas menengah memiliki efek pengganda yang jauh lebih kuat terhadap perekonomian. Jika kelompok ini menahan belanja, mesin ekonomi akan kehilangan tenaga utamanya.

"Nah kita butuh multiplier effect consumption, dimana kalau dikonsumsi, itu akan memberikan daya ungkit dan memberikan multiplier yang biasanya konsumsi itu ada di kelas menengah," ujarnya.

Bob menilai dilema ini tak hanya dihadapi Indonesia, tetapi juga banyak negara lain yang tengah berjuang melawan perlambatan ekonomi. Demi menjaga stabilitas politik, banyak pemerintah memilih kebijakan populis yang fokus pada kelas bawah.

"Tapi, jangan dilupakan kelas menengah. Karena yang membuat daya ungkit ini kelas menengah," tegasnya.

Menurutnya, pendekatan serupa juga mulai terlihat di sejumlah negara Asia Tenggara yang bergerak lebih cepat memberikan stimulus sebelum kondisi ekonomi memburuk.

"Beberapa negara itu sudah memberikan stimulus, insentif sebelum ekonominya makin parah. Sebab makin parah itu, ruangnya makin sempit," ujarnya.

Bob menyinggung Vietnam yang menurunkan tarif PPN dari 10% menjadi 8% sejak satu hingga dua tahun lalu. Kebijakan tersebut, menurutnya, turut berdampak positif pada peningkatan ekspor Indonesia ke negara tersebut. Malaysia juga disebut memberikan stimulus bagi pembeli kendaraan pertama sebagai bagian dari dukungan terhadap konsumsi kelas menengah.

"Kalau pembeli pertama itu wajar dong dikasih stimulus karena dia stage of life kan. Jadi, dia punya kendaraan itu tidak dianggap seperti barang mewah," katanya.

Selain kebijakan fiskal, Bob juga mengingatkan risiko pelemahan nilai tukar rupiah. Meski depresiasi terhadap dolar AS relatif terbatas, tekanan terhadap mata uang negara lain dinilai jauh lebih signifikan.

"Yang harus diwaspadai juga pelemahan mata uang. Karena mata uang kita ini ya mungkin terhadap dolar depresiasinya sekitar 1-2%, tapi terhadap Ringgit Malaysia itu 14% itu setahun," ungkapnya.

Ia menegaskan, kunci menjaga stabilitas nilai tukar ke depan tetap berada pada kinerja ekspor dan kemampuan Indonesia mempertahankan surplus perdagangan.

"Karena kuncinya itu surplus ekspor. Itu yang menjadi kunci ke depan," pungkas Bob.

Presdir TMMIN Nandi Julyanto (dua dari kiri) dan Wapresdir TMMIN Bob Azam (tiga dari kiri) pada workshop media TMMIN di Bandung, Jumat (9/1/2026). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)Foto: Presdir TMMIN Nandi Julyanto (dua dari kiri) dan Wapresdir TMMIN Bob Azam (tiga dari kiri) pada workshop media TMMIN di Bandung, Jumat (9/1/2026). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)
Presdir TMMIN Nandi Julyanto (dua dari kiri) dan Wapresdir TMMIN Bob Azam (tiga dari kiri) pada workshop media TMMIN di Bandung, Jumat (9/1/2026). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)

(dce)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article