Alasan Sebenarnya Kenapa AS Selalu 'Cawe-Cawe' Negara Lain di Dunia

4 weeks ago 8
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) kembali menjadi sorotan dunia usai melakukan intervensi langsung dalam urusan politik negara lain. Terbaru, Washington melancarkan operasi militer di Venezuela yang berujung pada penahanan Presiden Nicolas Maduro pada Sabtu (3/1) waktu setempat.

Langkah ini memicu kecaman internasional dan kembali memperpanjang daftar panjang keterlibatan AS di berbagai negara. Sejarah mencatat, Washington kerap turun tangan, baik secara terbuka maupun terselubung, untuk menggulingkan, menekan, atau melemahkan pemerintahan asing yang dinilai bertentangan dengan kepentingan nasionalnya.

Lantas, Kenapa Amerika Konsisten Melakukan Intervensi ke Negara Lain?

Menurut riset "Introducing the Military Intervention Project" (2024), AS telah melakukan sekitar 400 intervensi di berbagai negara sejak 1776. Hampir seperempat dari jumlah tersebut terjadi setelah 1991 atau pasca-berakhirnya Perang Dingin dan keruntuhan Uni Soviet.

Ini terjadi karena AS punya pandangan intervensionisme yang didasari oleh Doktrin Monroe. Doktrin Monroe dicetuskan oleh Presiden AS kelima, James Monroe (1817-1825), dalam pidatonya di hadapan Kongres pada 1823.

Inti doktrin ini adalah penolakan terhadap campur tangan kekuatan Eropa di Benua Amerika. Monroe menegaskan setiap upaya kolonisasi atau intervensi Eropa di Amerika akan dipandang sebagai ancaman langsung terhadap keamanan AS.

Kala itu, doktrin ini dianggap pepesan kosong sebab AS masih merupakan pemain relatif kecil di panggung global. Negeri itu belum memiliki kekuatan militer maupun angkatan laut yang memadai untuk menegakkan klaimnya. 

Namun demikian, doktrin ini menanamkan satu keyakinan penting, yakni AS memiliki hak moral dan politik untuk mengatur lingkungan di luar teritorinya. Keyakinan inilah yang kemudian menjadi landasan kebijakan luar negeri AS pada dekade-dekade berikutnya.

Keyakinan tersebut benar-benar diwujudkan ketika Theodore Roosevelt menjabat sebagai presiden pada 1901-1909 lewat Roosevelt Corollary. Menurut situs Britannica, AS secara terbuka menyatakan mereka memiliki hak untuk melakukan intervensi militer di negara-negara Amerika Latin apabila negara-negara tersebut dianggap gagal menjaga stabilitas atau berpotensi mengundang campur tangan Eropa.

Roosevelt berargumen AS memiliki tanggung jawab moral untuk bertindak sebagai "polisi internasional" di kawasan tersebut. Salah satu pemicunya adalah krisis utang Venezuela pada awal 1900-an, yang dikhawatirkan akan dijadikan alasan oleh negara-negara Eropa untuk kembali menjajah wilayah Amerika.

Sejak titik ini, intervensi tidak lagi dipandang sebagai langkah darurat, melainkan berubah menjadi instrumen resmi kebijakan luar negeri AS. Setelah Perang Dunia II (1939-1945), pembenaran atas intervensi AS terus berganti. Pada era Perang Dingin (1945-1991), dalih utamanya adalah membendung penyebaran komunisme. Setelah itu, narasi bergeser ke isu demokrasi, stabilitas global, dan hak asasi manusia.

Namun perubahan paling signifikan terjadi setelah serangan 11 September 2001 (9/11). Sejak saat itu, terorisme dijadikan pilar utama kebijakan luar negeri AS.

Dalam riset "How The United States Justified Its War on Terrorism" (2004), AS meluncurkan strategi "4-D", yakni mengalahkan jaringan teror global (Defeat), menutup ruang gerak mereka (Deny), meminimalisir kondisi pemicu terorisme (Diminish) dan mempertahankan wilayah AS (Defend). Strategi ini membuka ruang intervensi militer yang jauh lebih luas, mulai dari Afghanistan hingga Irak.

Sejak saat itulah, ditambah ketiadaan negara adidaya tandingan, seperti Uni Soviet, Washington seakan-akan punya tanggung jawab moral untuk menjaga keamanan global dan belakangan berdalih melindungi hak asasi manusia. Meski begitu, sayangnya, menurut riset "Why Does the United States Intervene Abroad? Democracy, Human Rights Violations, and Terrorism" (2016), di balik meningkatnya kesadaran AS terhadap promosi demokrasi dan pemberantasan terorisme, pelanggaran hak asasi manusia justru menjadi ciri yang paling konsisten di antara negara-negara yang mengalami intervensi militer AS.

Keyakinan inilah yang menjelaskan kenapa setiap kali krisis global muncul, termasuk di Venezuela hari ini, AS hampir selalu ada di dalamnya.

(mfa/șef)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article